Dia, Inspirasi dan Hikmah Kehidupanku

Ayo Bagikan ke :

Dia, Inspirasi dan Hikmah Kehidupanku

Perkenalkan namaku Yanti Kumilailah orang-orang biasa memanggilku “Umi Yanti” atau “Umi Fajri” dimana disandarkan pada nama putra pertamaku. Aku memang bukan seorang tokoh yang terkenal, tokoh yang mendunia dan dikenal oleh semua orang, tapi aku memiliki satu tokoh dimana ia begitu menginspirasi hidupku, memberikan warna-warni bak cat air di atas kanvas.

Jumpa pertama karena alasan pekerjaan, ya pekerjaan membuat kami bertemu dan berinteraksi, qadarullah aku percaya itu adalah salah satu takdir dari- Nya yang harus aku syukuri karena bisa berjumpa dengan manusia sehebat dia.

Terlahir dari keluarga di bawah sederhana, kemudian ditinggal ayah tercinta otomatis menjadikannya kepala keluarga dikarenakan ia adalah anak laki-laki pertama ayah dan ibunya, juga masih memiliki adik-adik yang masih harus membutuhkan biaya sekolah dan lain-lain.

Mengantongi ijin sang bunda berangkatlah ia ke Jakarta dengan satu tujuan “Hidup”. Bersyukur ia dikarunia otak yang cerdas sehingga bisa diterima di salah satu Sekolah Tinggi Agama bergengsi di Jakarta dengan beasiswa tentunya.

Sebulan dua bulan pertama ia masih bergantung pada beasiswa itu, namun ia sadar ia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada beasiswa itu mulailah ia mencari cari pekerjaan dan alhamdulillah  Allah selalu memberikan jalan disetiap kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. Ia diterima bekerja di salah satu toko buku Islam terbesar di Jakarta.

Sampai suatu ketika di tahun 1996 ia mendapatkan tugas untuk mengantar buku ke Cikarang dengan sepeda motor, jarak tersebut bukannya jarak yang dekat tapi cukup membuat pinggul bergoyang-gayang karena jauhnya. Disana ia mengenal orang-orang baru yang memiliki visi misi sama yakni karena Allah.

Karena kesibukan barunya otomatis ia menjadi sangat sibuk sekarang, pagi bekerja, siang kuliah dan malam pergi berdakwah, ia memang seseorang yang patut di tiru, semangatnya sungguh luar biasa.

Sampai suatu ketika menginjak usia ke-23 ia menyadari bahwa ia sudah siap untuk menikah, usia yang cukup amat muda bukan. Qadarullah ia menerima biodata seorang wanita yang berdomisili di Cikarang dari seorang yang ia kagumi dan hormati dan sudah mengganggapnya seperti ayah, abangnya sendiri, tanpa pikir panjang ia mengambil biodata itu, kemudian istikharah untuk meneruskan rencana pernikahan ini. Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, tepat 1 Maret 1998 ia melangsugkan pernikahan. Yang laki-laki itu adalah Zainul Ma’arif, ia yang telah menjadi suamiku dan kami bahagia dengan pernikahan ini karena tidak menyangka pada akhirnya karena sejujurnya sejak “pertemuan-pertemuan” kami, aku mengaguminya.

Ternyata ada “tujuan lain” kenapa ia memilih Cikarang, karena sang Murabbi menganggap Cikarang merupakan daerah industri yang belum banyak tersentuh “dakwah”. Maka setelah menikah ia mulai menjalankan tugas-tugas lainnya yakni berdakwah dari satu pabrik ke pabrik lainnya dan untuk jaringan kesana juga bukan hal yang sulit karna istrinya pernah cukup lama bekerja di pabrik-pabrik besar di Cikarang maka cukup mudah mendapatkan “chanel” tersebut.

Kabar gembira kembali datang tanpa henti kepada kami, tak sampai satu tahun 5 November 1998, kami sudah menjadi orang tua, bersyukur karena Allah telah mempercayai kami dengan memberikan kami seorang putra. Dan kami memberinya nama Fajri.

Di tahun 2000 usaha bersama sang istri yakni membuka toko buku dan perlengkapan muslim mengalami perkembangan sehingga cukup banyak memiliki karyawan. Dengan kegiatan dakwahnya yang semakin sibuk maka salah satu parta Islam menawarkan ia menjadi “abdi masyarakat” walau tidak menang tapi suara yang ia dapat cukup membuktikan bahwa ia bisa membina di tempat yang notabene bukanlah asalnya.

Ternyata ujian menghampirinya, medio 2007 usahanya mengalami penurunan dan nyaris bangkrut. Dengan petunjuk-Nya maka ia bertekad pergi ke Malaysia karena ia mendengar bahwa di sana sedang membutuhkan cukup banyak tenaga medis yang berkaitan dengan pengobatan islami.

Maka dengan segala keterbasan yang ada berangkatlah ia kesana meninggalkan saya sendiri yang sedang hamil besar putra ke-4. Sebelum pergi ia sempat berkata “Alloh betul-betul sedang menguji kita karena apa yang kita usahakan adalah barang yang halal dan kita pun berusaha menjadi orang baik. Setiap ada ujian bisa jadi karena ada perintah Allah yang kita langgar maka kita harus benar-benar bertaubat”.

Ia tak bisa langsung ke Malaysia karena tidak memilik kenalan sama sekali, maka ia pun harus singgah dahulu di Kalimantan dan meminta kepada pamannya untuk memasukkannya ke Malaysia, tapi ternyata pamannya berfikir lain, ia melihat potensi dakwah yang besar dalam diri Zainul Ma’arif , maka pamannya pun meminta ia untuk mencoba berdakwah di Kalimantan tepatnya di daerah Sampit.

Tinggal di Kalimantan ia mengambil pelajaran berharga dan berkata kepadaku “Alloh akan menguji hamba-Nya sampai titik nadir yang paling rendah, sampai betul-betul kita pasrah total dengan ketentuan Alloh. Alloh mau melihat hamba-Nya betul-betul kuat atau tidak dengan ujian ini, karena begitulah tujuan ujian sesungguhnya”. Dan kata-kata inilah yang selalu aku ingat .

Allah melihat kesungguhan dari Zainul Maarif dalam bedakwah, karena dimana saja ia di tempatkan maka ia selalu melakukannya dengan sungguh-sungguh. Pernah satu ketika  belum genap satu tahun ia menetap di Kalimantan ia bercerita pada jama’ahnya “ujian terberat saya adalah meninggalkan istri saya yang tidak punya apapun dan dalam kondisi hamil besar serta akan melahirkan anak ke-4, istri saya dalam kondisi tidak ada uang sepeserpun untuk melahirkan, tapi saya yakin Alloh berikan kemudahan”.

Kurang lebih setahun berada di Kalimantan, banyak hikmah yang ia dapatkan, ia banyak belajar tentang sulitnya medan dakwah dan bagaimana menghadapi kultur masyarakat yang nyaris berbeda dengan daerah asalnya maka beliau kembali menerima tantangan baru, Allah memberikan kepercayaan untuk berdakwah di negeri sebrang melalui salah seorang jama’ahnya yang pernah diobatinya saat di Cikarang, maka dimulia babak baru.

Christmas Island, Australia Barat, disanalah ia kembali harus beradaptasi April 2008. Tantangan dakwah yang jauh lebih besar, satu sisi karena nafsu kemanusiaannya ia cinta keuarganya dan begitu rindu tapi disisi lain sebagai seorang Da’i ia harus tetap melanjutkan dakwah ini. 3 bulan pertama ia menghabiskan visa dengan jangka waktu 3 bulan, namun ternyata setelah 3 bulan nyaris berlalu ia diminta kembali berdawah di sana. Maka pulanglah ia ke Indonesia untuk mengurus visanya dan tentu melepas rindu akan keluarganya.

Nyaris 2 bulan di Indonesia keinginan memperpanjang visanya baru dikabulkan oleh kedutaan. Namun sebelum datang berita akan terkabulnya permohonannya visa Allah memberikan kabar berita gembira lainnya, kami kembali dititipkan seorang putra yang akan menjadi putra kelima kami. Dan selanjutnya dalam visa tersebut ia akan tinggal kurang lebih selama 2 tahun.

Selain berdakwah di negeri sebrang ia juga mulai membangun sebuah yayasan dimana yayasan ini bergerak di bidang pendidikan di Cikarang tidak jauh dari domisili kami.

Tak terasa sudah lima tahun ia berdakwah di Christamas Island, sudah banyak pelajaran yang ia dapatkan, setiap tahun selalu pulang kerumah menjelang ‘Idul Fitri sampai ‘Idul Adha banyak hal yang ia lakukan, selalu merapihkan rumah karena ia suka sekali keindahan, ia yang tak pernah bisa memarahiku meski mungkin sering membuatnya kesal.

Saat kepulangannya terakhir yakni di akhir tahun 2012, ia begitu ingin merapihkan rumah, membuat dan memasang foto-foto kami sekeluarga di ruang tamu bahkan berbeda dari sebelumnya ia begitu antusias untuk foto bersama sekeluarga khusus di Studio Foto.

Ternyata itu memang tanda-tanda yang ia berikan. Ahad 7 April 2013, telepon datang dari tempat ia tinggal dan mengabarkan bahwa ia sudah kembali pulang ke “Rumah Sesungguhnya” pada usia ke 38 tahun, sungguh hari yang tak akan pernah aku lupakan, Allah lebih sayang kepadanya melebihi sayang kami kepadanya, saat rihlah rutin yang ia dan ke-12 jama’ahnya lakukan, kecelakaan saat diving menghampirinya dan menjadikan alasannya kembali ke pangkuan sang Khalik.

Kepergian beliau memberikan beribu hikmah kepadaku, kurang lebih 15 tahun bersamnya, keteguhan, kerja keras, ketekunan, kesabaran juga kepasrahan yang luar biasa semoga terus membersamai kita. Kini aku harus terus berjalan meneruskan cita-cita beliau membangun Sekolah Islam Terpadu juga meneruskan tugasku sebagai seorang hamba. Semoga Allah selalu memberkahi segala aktivitas kebaikan kita, amin.

 

By : Yanti Kumilailah

Semester 6 

STTIDI Al Hikmah